Di Balik Stan Pijat Pertuni, Ada Kejujuran yang Diam-Diam Menyentuh Hati
- Reporter : Eka J. Artawan
- Editor : Angga
JEMBRANA, NETIZENBALI.COM – Ada hal menarik yang bisa ditemui saat mengunjungi Pameran Semarak Jembrana 2026 dalam rangkaian HUT Kota Negara ke-131. Tak jauh dari pintu masuk, pengunjung akan menemukan sebuah stan sederhana yang menawarkan jasa pijat dari Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Jembrana.
Bukan sekadar menawarkan jasa pijat, stan tersebut juga menghadirkan sebuah pelajaran sederhana tentang kejujuran. Sebab, para penyandang tunanetra yang memberikan layanan pijat tidak dapat melihat nominal uang yang dibayarkan pelanggan.
Di balik kehadiran stan tersebut terdapat sosok I Gusti Ngurah Kade Sudiartana, Ketua Pertuni Jembrana. Tahun ini, Pertuni Jembrana mendapat kesempatan membuka stan massage yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Dinas Sosial.
“Di sini kami koordinasikan teman-teman Pertuni. Mereka berjaga secara bergiliran, dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan,” ujar Gusti Ngurah Kade, asal Mendoyo.
Menurutnya, pelanggan dapat memilih terapis laki-laki maupun perempuan sesuai kebutuhan. Tarif pijat yang ditawarkan pun beragam, mulai dari Rp30 ribu, Rp70 ribu hingga Rp100 ribu.

“Kalau ada yang minta jasa pijat perempuan, kita kasih perempuan. Kalau minta laki-laki, kita kasih laki-laki. Tarifnya bervariasi. Rp30 ribu untuk pijat kaki, Rp70 ribu untuk kaki dan punggung, sedangkan full body Rp100 ribu,” jelasnya.
Pada hari pertama pembukaan pameran, Jumat (14/8/2026), sebelum acara resmi dibuka jajaran Pemerintah Kabupaten Jembrana, redaksi NetizenBali.com berkesempatan mencoba layanan pijat dengan tarif Rp70 ribu.
Selama sekitar 45 menit, layanan yang diberikan berupa pijat kaki dan punggung. Tekanan pijatan terasa cukup kuat, dengan gerakan yang fokus pada bagian otot.
Ruangan pijat tersebut sederhana. Hanya terdapat satu tempat tidur dan sebuah kipas angin untuk menjaga sirkulasi udara di ruangan yang tidak terlalu luas.
Menariknya, setelah layanan selesai, redaksi memberikan uang pecahan Rp100 ribu untuk membayar tarif Rp70 ribu. Terapis tidak dapat mengetahui nominal uang yang diberikan.
Pelanggan kemudian diminta melihat uang kembalian dan menyebutkan nominal pecahannya. Saat itu, uang kembalian yang diberikan berupa satu lembar Rp20 ribu dan satu lembar Rp10 ribu.
Di sinilah kejujuran pelanggan menjadi bagian penting dalam transaksi. Para terapis memang tidak dapat melihat nominal uang yang diterima, sehingga kejujuran dari setiap pelanggan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari layanan tersebut.
Tidak Hanya Pijat
Gusti Ngurah Kade mengatakan, aktivitas anggota Pertuni Jembrana tidak hanya berkutat pada jasa massage. Masing-masing anggota juga memiliki aktivitas dan usaha sendiri, mulai dari berkesenian hingga menjalankan usaha kecil-kecilan.
Ia juga mengungkapkan, Pertuni Jembrana tengah berupaya meningkatkan keterampilan anggotanya, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.
“Kebetulan beberapa waktu ini kami memohon ke Dinas Sosial untuk melakukan pelatihan menggunakan HP Android. Mudah-mudahan ke depannya, seiring perkembangan zaman, karena kita semua bergerak di bidang media sosial dan digitalisasi, kami bisa melaksanakan itu,” harapnya.
Untuk jumlah anggota, Gusti Ngurah Kade menyebut Pertuni di wilayah Negara memiliki sekitar 43 orang berdasarkan data yang dimilikinya. Jumlah tersebut termasuk mitra bakti, yakni para relawan yang membantu kegiatan Pertuni baik di internal maupun eksternal.
Ia berharap pemerintah terus memberikan perhatian melalui berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan dan kemandirian penyandang tunanetra.
“Mudah-mudahan massage ini perlu ditingkatkan, termasuk pelatihan-pelatihan lain untuk meningkatkan skill kami. Karena di zaman sekarang, dalam persaingan dengan masyarakat umum, sebagai penyandang disabilitas atau tunanetra kami tidak kalah dari segi kemampuan,” tegasnya.
Semarak Jembrana Libatkan 134 Peserta
Sementara itu, Pameran Semarak Jembrana 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian HUT Kota Negara ke-131 melibatkan 134 peserta dari berbagai kategori.
Peserta terdiri dari pelaku UMKM, kuliner, flora dan fauna, hingga instansi pemerintah maupun lembaga lainnya. Pameran yang berlangsung pada 14–23 Agustus 2026 tersebut menjadi ruang promosi sekaligus pengembangan potensi dan produk unggulan lokal Jembrana.
Selain pameran, Semarak Jembrana 2026 juga menghadirkan Job Fair yang diikuti 18 perusahaan dan empat Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
Kehadiran bursa kerja tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja baru bagi masyarakat sekaligus mendorong penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Jembrana.
Di tengah semaraknya pameran, stan sederhana Pertuni Jembrana justru menghadirkan pesan yang cukup dalam: keterbatasan penglihatan tidak menghalangi seseorang untuk berkarya, bekerja, dan memberikan pelayanan. Bahkan, dari sebuah transaksi sederhana, pengunjung diajak kembali mengingat pentingnya kejujuran. (NB)




Related Articles
- Damai Itu Terjadi Jika Ada Trust di Antara Kita, Bali Jadi Ruang Refleksi Perdamaian
- Emmanuel Dewata Oja Ingatkan Wartawan Kenali Batas Aman, Risiko Sengketa Hukum Meningkat
- Emanuel Dewata Oja Soroti “Parasitisme Konten” Homeless Media, Jangan Asal Repost
- Kemerdekaan Belum Menyapa Nasib Pahlawan Pangan yang Masih Terjebak Kemiskinan
- Reorientasi MBG Demi Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Diversifikasi Lokal