Gemuruh Makepung Kian Dekat, Kerbau Andalan Dirawat Intensif dan Diberi Ramuan Khusus
- Reporter : Eka J. Artawan
- Editor : Ika Pradnyani
- 25 Juni 2026
- Traditional
- Jembrana
JEMBRANA, NETIZENBALI.COM – Aroma persaingan sekaligus semangat pelestarian budaya mulai terasa di Kabupaten Jembrana. Tinggal tiga hari lagi, ajang balap kerbau tradisional khas Bali, Makepung Kapolda Bali Cup, akan kembali digelar di Sirkuit All In One, Desa Pengambengan, pada Minggu (28/6) mulai pukul 07.00 WITA.
Perhelatan bergengsi ini dipastikan menjadi magnet bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung salah satu warisan budaya khas Jembrana yang telah diwariskan secara turun-temurun. Makepung bukan sekadar perlombaan adu cepat kerbau pacu, melainkan simbol kebersamaan, ketangkasan, serta sportivitas masyarakat agraris Jembrana.
Ketua Sekaa (Paguyuban) Makepung Kabupaten Jembrana, I Made Mara, menjelaskan bahwa sebelum seekor kerbau turun ke lintasan, proses panjang telah dilakukan sejak tahap pemilihan bibit unggul. Berbagai aspek menjadi pertimbangan, mulai dari bentuk tanduk, mata, kulit, hingga struktur kaki.
“Dari sana sudah bisa dilihat potensi kerbau tersebut, apakah memiliki kemampuan untuk menjadi kerbau pacu atau tidak,” ujarnya dalam unggahan resmi kanal Dinas Kominfo Jembrana.
Setelah terpilih, kerbau mendapatkan perawatan khusus. Selain dimandikan secara rutin, kerbau juga diberikan ramuan tradisional berupa campuran telur bebek dan susu yang dipercaya membantu menjaga stamina serta memperkuat daya tahan saat berlaga di lintasan.
Menurut Mara, perawatan tersebut dilakukan agar kondisi fisik kerbau tetap prima dan memiliki daya tahan napas yang panjang saat berpacu. Selain itu, para pemilik juga melengkapi kerbau dengan berbagai ornamen dan hiasan khas Makepung yang nilainya tidak sedikit sebagai bagian dari kebanggaan sekaligus identitas kelompok.
Dalam perlombaan Makepung, terdapat pula alat pemacu tradisional yang dikenal dengan nama tungked, yakni sejenis cemeti yang menjadi bagian dari tradisi balap kerbau Jembrana.
“Penggunaan alat ini merupakan bagian dari tradisi Makepung yang sudah berlangsung sejak lama. Setelah perlombaan selesai, kerbau tetap mendapatkan perawatan dan pengobatan sehingga kondisinya kembali pulih,” jelasnya.
Perawatan kerbau pacu sendiri membutuhkan perhatian khusus, mulai dari kandang yang nyaman hingga pola pemberian pakan yang terjaga setiap hari. Tak heran jika banyak pemilik rela mengeluarkan biaya besar demi menjaga performa kerbau andalannya.
Di lintasan sirkuit, derap kaki kerbau yang melaju kencang akan berpadu dengan sorak-sorai penonton, menciptakan suasana meriah yang selalu dinantikan setiap musim perlombaan. Setiap peserta akan menampilkan kemampuan terbaik demi meraih prestasi sekaligus mengharumkan nama kelompoknya.
Lebih dari sekadar kompetisi, Makepung Kapolda Bali Cup juga menjadi ruang pelestarian budaya lokal yang terus menarik perhatian generasi muda. Tradisi yang lahir dari kehidupan agraris masyarakat Jembrana ini kini berkembang menjadi atraksi budaya dan wisata yang memiliki daya tarik tersendiri.
Panitia pun mengajak masyarakat untuk datang lebih awal dan menikmati seluruh rangkaian acara. Selain menyaksikan adu cepat kerbau pacu, pengunjung juga dapat merasakan suasana kebersamaan yang kental di tengah masyarakat Pengambengan.
Minggu pagi nanti, Sirkuit All In One dipastikan kembali bergema oleh semangat para pe-makepung. Sebuah perpaduan harmonis antara tradisi, hiburan, dan sportivitas yang menjadi kebanggaan masyarakat Jembrana serta Bali secara keseluruhan. (NB)





Related Articles
- Tiga Mantan Bupati Hadiri Parade Budaya Semarak Jembrana, Jadi Saksi Semaraknya Festival
- Trio Mas Buka Malam Semarak Kemerdekaan, "Suaraya Indonesia" Hibur Warga Jembrana
- NetizenBali.com Sampaikan Rahajeng Nyangra Hari Raya Galungan dan Kuningan 2026
- Rough weather keeps Pengambengan fishermen ashore as lemuru catch vanishes
- Jegog art from Jembrana receives communal intellectual property recognition